A.Pengertian
Human
Immunodeficiency Virus (HIV) Merupakan virus yang merusak sistem kekebalan
tubuh manusia yang tiidak dapat hidup di luar tubuh manusia. Kerusakan sistem
kekebalan tubuh ini akan menimbulkan kerentanan terhadap infeksi penyakit
Acquired Immuno
Deficiency Syndrome (AIDS) adalah :
Sekumpulan
gejala, infeksi dan kondisi yang diakibatkan infeksi HIV pada tubuh. Muncul
akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia sehingga infeksi dan penyakit
mudah menyerang tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Infeksi oportunistik
adalah infeksi yang muncul akibat lemahnya system pertahanan tubuh yang telah
terinfeksi HIV atau oleh sebab lain.
Pada orang yang
sistem kekebalan tubuhnya masih baik infeksi ini mungkin tidak berbahaya, namun
pada orang yang kekebalan tubuhnya lemah (HIV/AIDS) bisa menyebabkan kematian.
AIDS dapat
didefinisikan melalui munculnya IO yang umum ditemui pada ODHA:
1.Kandidiasis:
infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, vagina.
2.Virus
sitomegalia (CMV): menimbulkan penyakit mata yang dapat menyebabkan kematian.
3.Herpes pada
mulut atau alat kelamin.
4.Mycobacterium
avium complex (MAC): infeksi bakteri yang menyebabkan demam kambuhan.
5.Pneumonia
pneumocystis (PCP): infeksi jamur yang dapat menyebabkan radang paru.
6.Toksoplasmosis:
infeksi protozoa otak.
7.Tuberkolosis
(TB) Perjalanan penyakit HIV/AIDS : periode jendela (3-6 bulan) ? HIV + (3-10
tahun)? AIDS + (1-2 tahun). Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat
sepanjang hidupnya apabila ia menjaga kesehatan tubuhnya: makan teratur,
berolahraga dan tidur secara seimbang. Gaya hidup sehat akan tetap melindungi
kebugaran orang dengan HIV dan ia akan tetap produktif dalam berkarya.
Bila telah
muncul tanda-tanda penyakit infeksi dan tidak kunjung sembuh atau berulang,
artinya daya tahan tubuh menjadi buruk, sistim kekebalan tubuh berkurang, maka
berkembanglah AIDS.
B.Etiologi
AIDS disebabkan
oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama
ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral
yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas
yang kuat terhadap limfosit T. Virus ini ditransmisikan melalui kontak intim
(seksual), darah atau produk darah yang terinfeksi.
C.
Patofisiologi
Tubuh mempunyai
suatu mekanisme untuk membasmi suatu infeksi dari benda asing, misalnya :
virus, bakteri, bahan kimia, dan jaringan asing dari binatang maupun manusia
lain. Mekanisme ini disebut sebagai tanggap kebal (immune response) yang
terdiri dari 2 proses yang kompleks yaitu :
Kekebalan
humoral dan kekebalan cell-mediated. Virus AIDS (HIV) mempunyai cara tersendiri
sehingga dapat menghindari mekanisme pertahanan tubuh. “ber-aksi” bahkan
kemudian dilumpuhkan.
Virus AIDS
(HIV) masuk ke dalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau berada di dalam
sel limfosit. Virus ini memasuki tubuh dan terutama menginfeksi sel yang
mempunyai molekul CD4. Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag
dan limfosit T4 helper. Saat virus memasuki tubuh, benda asing ini segera
dikenal oleh sel T helper (T4), tetapi begitu sel T helper menempel pada benda
asing tersebut, reseptor sel T helper .tidak berdaya; bahkan HIV bisa pindah
dari sel induk ke dalam sel T helper tersebut. Jadi, sebelum sel T helper dapat
mengenal benda asing HIV, ia lebih dahulu sudah dilumpuhkan. HIV kemudian
mengubah fungsi reseptor di permukaan sel T helper sehingga reseptor ini dapat
menempel dan melebur ke sembarang sel lainnya sekaligus memindahkan HIV.
Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas
benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper.
Dengan
menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan
melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk
membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam
nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang
permanen.
Fungsi T helper
dalam mekanisme pertahanan tubuh sudah dilumpuhkan, genom dari HIV ¬ proviral
DNA ¬ dibentuk dan diintegrasikan pada DNA sel T helper sehingga menumpang ikut
berkembang biak sesuai dengan perkembangan biakan sel T helper. Sampai suatu
saat ada mekanisme pencetus (mungkin karena infeksi virus lain) maka HIV akan
aktif membentuk RNA, ke luar dari T helper dan menyerang sel lainnya untuk
menimbulkan penyakit AIDS. Karena sel T helper sudah lumpuh maka tidak ada
mekanisme pembentukan sel T killer, sel B dan sel fagosit lainnya. Kelumpuhan
mekanisme kekebalan inilah yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency
Syndrome) atau Sindroma Kegagalan Kekebalan.
D.Manifestasi
Klinis Gejala dan tanda HIV/AID menurut WHO:
Stadium Klinis
I :
1.Asimtomatik
(tanpa gejala)
2.Limfadenopati
Generalisata (pembesaran kelenjar getah bening/limfe seluruh tubuh)
3.Skala
Penampilan
1 :
asimtomatik, aktivitas normal.
Stadium Klinis
II :
1.Berat badan
berkurang <> 10%
2.Diare
berkepanjangan > 1 bulan
3.Jamur pada
mulut
4.TB Paru
5.Infeksi
bakterial berat
6.Skala
Penampilan 3 : <> 1 bulan)
7.Kanker kulit
(Sarcoma Kaposi)
8.Radang Otak
(Toksoplasmosis, Ensefalopati HIV)
9.Skala
Penampilan 4 : terbaring di tempat tidur > 50% dalam masa 1 bulan terakhir.
E.Komplikasi
1.Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis oral
ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim dalam rongga mulut. Jika tidak
diobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan lambung. Tanda
dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit di
balik sternum (nyeri retrosternal).
2.Neurologik
a.ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS
dementia complex).
a.Manifestasi
dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi,
konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia. stadium lanjut
mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan
efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis spastic,
psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian.
b.Meningitis
kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise, kaku
kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. diagnosis
ditegakkan dengan analisis cairan serebospinal.
3.Gastrointestinal
Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk
penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB > 10% dari BB
awal, diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis,
dan demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat
menjelaskan gejala ini.
a.Diare karena
bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi.
Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan
dehidrasi.
b.Hepatitis
karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
c.Penyakit
Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai
akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal,
gatal-gatal dan diare.
4.Respirasi
Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea),
batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi
infeksi oportunis, seperti yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare
(MAI), cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides.
5.Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,
gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis seperti
herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai dengan pembentukan vesikel yang
nyeri dan merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum merupakan infeksi
virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas. dermatitis
sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan indurasi yang mengenai
kulit kepala serta wajah.penderita AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis
menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan
dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis.
6.Sensorik
6.1.Pandangan :
Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis sitomegalovirus
berefek kebutaan
6.2.Pendengaran
: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek
nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan
reaksi-reaksi obat.
F.Pemeriksaan
Penunjang
1.Tes untuk
diagnosa infeksi HIV : a.ELISA (positif; hasil tes yang positif dipastikan
dengan western blot) b.Western blot (positif) c.P24 antigen test (positif untuk
protein virus yang bebas) d.Kultur HIV(positif; kalau dua kali uji-kadar secara
berturut-turut mendeteksi enzim reverse transcriptase atau antigen p24 dengan
kadar yang meningkat).
2.Tes untuk
deteksi gangguan system imun.
a.LED (normal
namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
b.CD4 limfosit
(menurun; mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi terhadap antigen)
c.Rasio CD4/CD8
limfosit (menurun)
d.Serum
mikroglobulin B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya penyakit) e.Kadar
immunoglobulin (meningkat)
G.Penatalaksanaan
1.Pengendalian
Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan
infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi
yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis
harus dipertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan kritis.
2.Terapi AZT
(Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang
efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase.
Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3.
3.Terapi
Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun
dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya.
Obat-obat ini adalah : a.Didanosine b.Ribavirin c.Diedoxycytidine d.Recombinant
CD 4 dapat larut.
4.Vaksin dan
Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut
seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan
keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman
dan keberhasilan terapi AIDS.
5.Pendidikan
untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari
stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
H.Pencegahan
1.A
(Abstinent): Puasa, jangan melakukan hubungan seksual yang tidak sah
2.B (Be
Faithful)Setialah pada pasangan, melakukan hubungan seksual hanya dengan
pasangan yang sah
3.C (use
Condom) Pergunakan kondom saat melakukan hubungan seksual bila berisiko
menularkan/tertular penyakit
4.D (Don’t use
Drugs) Hindari penyalahgunaan narkoba
5.E (Education)
Edukasi, sebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS dalam setiap kesempatan













